Bidadari Besi  

Posted by Ahlia 'Ammar

Subhanallah! Spontan kalimah yang satu ini terungkap tatkala kagum melihat ketangkasan polis-polis wanita Iran saat mereka menjalani latihan. Walaupun lengkap berjubah dan berjilbab, ini tidak menjadi batu penghalang kepada mereka untuk tangkas dan lincah dalam latihan. Alangkah indah andai kita di Malaysia ini mampu mengamalkan cara berpakaian yang sebegini. Mengikut syari’at Islam yang sebenarnya. Jelas terbukti tatacara berpakaian menutup aurat sebegini langsung tidak menjadi penghalang kepada keberlangsungan sesebuah pekerjaan. Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan wanita sebagai hiasan di dunia ini. Sebaik-baik hiasan dunia adalah wanita solehah. Justeru, tidak hairanlah andai suatu hari nanti akan wujud doktor malaya yang berniqob saat bekerja. Mungkinkah? Tidak mustahil bukan. Segalanya pasti, andai diizinkanNya. Akan ada pencetusnya kelak. InsyaAllah. Ke memang dah ada ek? Wallahua’alam. Ni antara koleksi gambar 'bidadari besi' yang ana ambil dari blog arruhuljadid. Mohon izin dipublishkan disini pula ya.

Cetusan Suara Subuh  

Posted by Ahlia 'Ammar

Pada pagi itu, seperti mana pagi-pagi yang lain, aku menyambut kedatangan tetamu tetapku. "Assalamualaikum", seru Subuh. "Wa'alaikumsalam", sahutku. Dan kami terus berpelukan, tanda rindu serta kasih sayang. Ku tanya khabar Subuh, bagaimana keadaannya mengembara dari satu tempat ke satu tempat. "Tadi..", kata Subuh dengan sayu, "... aku baru sahaja melintasi satu tempat. Kucari tempat persinggahan, ku ketuk rumah-rumah yang sunyi, tapi satu pun yang tiada mahu menerimaku sebagai tetamu." Dan airmata Subuh pun berlinangan. "Subuh, usah kau pedulikan mereka, bukankah aku menyambutmu dengan penuh rasa kegembiraan?" Subuh mengangkat mukanya seolah-olah teringat sesuatu. "Oh ya, tadi aku lalu di suatu tempat yang tanahnya disebalik sungai. Orang-orangnya sepertimu, menyambutku dengan penuh kesukaan, menjamuku dengan pelbagai hidangan yang lazat serta mengiurkan. Hidangan yang paling ku suka adalah buah Tahajjud, puas kucari dibumi lain, tapi jarang kujumpa. Di situ aku meratah buah Tahajjud dengan puas serta leka". Dan Subuh merenung mataku mengharapkan sesuatu. Aku fahami maksud Subuh. "Maaf Subuh, aku tiada menanam pohon Al-Lail, jadi aku tidak dapat menghidangkanmu dengan buah yang kau sukai. Tapi aku ada Roti Shiyam",cadangku pada Subuh. Subuh menolak dengan hormat. "Roti itu ada tuan punyanya", kata Subuh. "Adakah kau mahu manisan Zikir?" rayuku pada Subuh. "Baiklah, ambilkan aku sedikit, serta bawakan aku segelas Air Mata Tangisan", pinta Subuh. Aku agak sugul, bagaimana harusku beritahu pada Subuh, yang Mata Air Tangisan sudah hampir kekeringan akibat kemarau Maksiat yang berpanjangan? Namun, aku tetap menjenguk ke dalam Perigi yang memuatkan Mata Air tersebut. Aku terkejut. Perigi tersebut hampir separuh penuh! ya. Dan aku berdetik didalam hati, adakah ini tanda kemarau akan berakhir? Tanpa berlengah lagi kubawa Air tersebut pada Subuh, tetamu yang kusanjungi, dan kusuakan manisan yang dipintanya. Selesai menjamah kesemuanya, Subuh pun melirikkan sebuah senyuman. "Subuh ..", seruku, "... mahukah kau tinggal selamanya denganku? Aku memerlukan teman dalam kesunyian. Akan kulayan kau dengan sebaiknya, wahai Subuh". Subuh tersenyum lagi menandakan permintaanku tidak akan terpenuhi. "Aku perlu menziarahi ramai orang, dan ramai lagi yang memerlukan kehadiranku untuk mengubati rindu mereka, sepertimana aku menguliti mimpimu". Dan aku akur dengan penjelasan Subuh. "Subuh",.. seruku lagi bila melihat Subuh bersiap untuk pergi, "Sudikah kau menziarahiku lagi esok hari?" "InsyaAllah", jawab Subuh, "... bukankah aku kekasih yang kau rindui?" Subuh berangkat dengan lambat tetapi tetap. "Assalamualaikum", seru Subuh. "Waalaikumsalam", jawabku kembali. Dan mataku terus meniti langkah Subuh, yang semakin laju dengan setiap langkah. Dan akhirnya Subuh hilang dari pandangan. Terlintas difikiran ini apalah agaknya keluh kesah dari Zohor, Asar, Magrib dan Isyak? Namun Jawapannya? tersirat dalam diri kita sendiri. "sesungguhnya,apa yang baik itu datangNya dari Allah..dan yang tak baik itu jua datang dariNYA lantas disandarkan kepada kita atas kelemahan diri sebagai hambaNya.." "Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan Menyukai Kelembutan Di seluruh Permasalahan" (Riwayat Bukhari & Muslim)

~...JADILAH IKHWAN AKHAWAT SEJATI...~  

Posted by Ahlia 'Ammar

~...IKHWAN SEJATI...~ Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.... Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran... Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa ... Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati ditempatnya bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati didalam rumah... Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan... Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu... Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya... Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah tanggungjawab yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahadapi liku-liku kehidupan... Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya apa yang dia kerjakan... Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu??? Pelajarilah tentang dia... dialah MUHAMMAD S.A.W ************************************* ~...AKHAWAT SEJATI...~ Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.. Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.. Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.. Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan... Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara... Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya... Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhuatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari kekhuatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda... Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur... Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat ramahnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam pergaulan... Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu??? Pelajarilah tentang mereka merekalah ISTERI RASULULLAH S.A.W

-DUA SAYAP TAUBAT-  

Posted by Ahlia 'Ammar

Kisah ini pernah diceritakan oleh Ustaz Muhadir ketika Kuliah Aqidah mingguan semester lepas.Sama-samalah kita menghayati serta mengambil iktibar dan pengajaran daripadanya. Jabir bin Abdullah Al-Anshari meriwayatkan kisah hidup seorang pemuda Anshar bernama Tsa’labah bin Abdul Rahman. Sejak masuk Islam ia selalu setia melayani Rasulullah SAW dengancekatan. Suatu ketika Rasulullah SAW mengutusnya untuk suatu keperluan. Saat sedang menjalankan tugas tersebut kebetulan ia melewati sebuah rumah milik salah seorang sahabat Anshar. Tiba-tiba secara tak sengaja ia melihat wanita penghuni rumah itu yang sedang mandi. Serta merta ia ketakutan. Ia sangat khawatir wahyu akan turun kepada Nabi SAW berkaitan dengan perbuatannya. Maka ia pun segera berlari menjauhi pusat kota. Ketika sampai di pegunungan yangada di antara kota Mekkah dan Madinah, ia pun mendakinya. Tentu saja Nabi SAWmerasa kehilangan. Hal itu berlangsung selama empat puluhhari. Hingga akhirnya Allah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanmu memberikan salam dan berfirman kepadamu yang isinya: bahwa seorang laki-laki dari ummatmu berada di antara pegunungan ini dan telah memohon perlindungan kepada-Ku.”Mendengar wahyu tersebut beliau kemudian bersabda: “Wahai Umar dan Salman, berangkatlah kalian sekarang dan ajaklah kembali Tsa’labah bin Abdul Rahman kemari.” Keduanya pun segera berangkat menyusuri jalan perbukitan yang ada di Madinah, hingga bertemu dengan seorang pengembala bernama Dzufafah. Umar lalu bertanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda bernama Tsa’labah yang tinggal di antara kawasan pegunungan ini?” “Mungkin yang Engkau maksudkan itu adalah seorang yang lari dari neraka jahannam?”jawab Dzufafah. “Dari mana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka jahannam?’ tanya Umar lagi. “Sebab, setiap malam dia ke luar kepada kami dari kawasan antara pegunungan itu sambil meletakkan tangannya di atas kepala sambil berkata, “Wahai Allah, mengapa tidak Engkau cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkanku untuk mendapatkan keputusan?” jawab Dzufafah. “Itulah orang yang sedang kami cari,” jawab Umar sigap. Kemudian, berangkatlah mereka menemui Tsa’labah. Ternyata benar, ketika hari menjelang malam, Tsa’labah keluar. Disekitar lereng pegunungan, mereka segera menemuinya. Umar kemudian menghampiridan mendekapnya seraya membujuknya untuk kembali kepada Rasulullah SAW. “Wahai Umar, adakah Rasulullah mengetahui dosaku?” kata Tsa’labah. “Aku tidak tahu, hanya saja kemarin beliau menyebut-nyebut namamu dan kemudian memerintahkan agar aku dan Salman mencarimu,” jawab Umar. “Aku mohonengkau tidak membawaku kepada beliau, kecuali bila beliau sedang shalat,”pinta Tsa’labah. Setelah sampai ke tempat tujuan, Tsa’labah langsung ikut shalat berjamaah bersama Rasulullah SAW. Ketika itulah Rasulullah SAW membaca sejumlah ayat Al-Qur’an. Mendengar bacaan beliau, tiba-tiba ia jatuh pingsan. Setelah Salam Rasulullah SAW bersabda: “Wahai Umar dan Salman,bagaimana dengan Tsa’labah?” “Itu dia, ya Rasulullah,” jawab mereka sambil menunjuk ke arah sosok tubuh yang sedang terbaring. Rasulullah SAW segeraberdiri dan menghampirinya. Beliau menggerak-gerakkannya hingga ia pun siuman kembali. “Apa yang menyebabkan engkau pergi dariku?” tanya beliau lembut. “Dosaku, wahai Rasulullah,” jawab Tsa’labah. “Bukankah pernah kutunjukkan kepadamu tentang ayat yang dapat menghapuskan dosa dan kesalahan? Bacalah: Rabbanaa aatina /id dunyaa hasanah wafil aakhirati hasanah wa qinaaadzaaban naar (Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka/ Q.S. Al-Baqarah: 201),” tuntun Rasulullah. “Benar, wahai Rasulullah. Tapi dosaku terlalu besar,” jawabnya. “Akan tetapi Kalam Allah itu jauh lebih besar lagi,” tegas beliau. Setelah itu,beliau memerintahkannya pulang. Setibanya di rumah ia jatuh sakit selamadelapan hari. Mendengar hal itu, Salman pun segera menghadap Rasulullah SAW.“Wahai Rasulullah, masihkah Engkau memikirkan Tsa’labah? Ia kini sedangsakit keras,” cerita Salman. “Mari kita bersama-sama menjenguknya,” ajak beliau. Setiba di kediaman Tsa’labah, Rasulullah SAW meletakkan kepala Tsa’labah di pangkuan beliau. Tapi, ia berusaha menggeser kepalanya kembali dari pangkuan beliau. “Mengapa kamu geser kepalamu dari pangkuanku?” tanya beliau. “Karena kepala ini penuh dengan dosa,”jawab Tsa’labah murung. “Apa yang kamu keluhkan?” tanya beliau lagi. ‘Seperti ada gerumutan semut-semut di antara tulang, daging, dan kulitku,” jawab Tsa’labah menahan sakit. “Apa yang kamu inginkan?” tanya beliau lagi. “Ampunan dari Tuhanku,” jawab Tsa’labah mantap. Kemudian turunlah Jibril menemui Nabi SAW. “Wahai Muhammad, sesungguhnya Tuhanku membacakan salam untukmu dan berfirman kepadamu: Andaikata hamba-Ku ini menghadap-Ku dengan membawa kesalahannya sepenuh bumi, Aku akan menyambutnya dengan ampunan-Ku sepenuh bumi pula.” Rasulullah SAW kemudian memberitahukan wahyu itu kepadanya kepada Tsa’labah. Seketika itu juga Tsa’labah terpekik gembira dan tidak lama kemudian wafat.. Rasulullah SAW langsung memerintahkan para Sahabatnya untuk segera memandikan dan mengafani jenazah Tsa’labah. Dan ketika selesai menyalatkannya, beliau berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah acara pemakaman, salah seorang Sahabat bertanya kepada beliau, “Mengapa Engkau tadi kami lihat berjalan sambil berjingkat- jingkat?” “Demi Dzat yang telah mengutusku dengan benar sebagai Nabi, sungguh aku tidak mampu meletakkan telapak kakiku di atas bumi, karena malaikat yang turut melayat Tsa ‘labah sangatlah banyak,” jawab beliau. Sayap Pertama: Takut terhadap Dosa (Sekecil Apapun) Subhanallah! Begitu takutnya terhadap satu dosa (sekali lagi satu dosa), Sang Sahabat menghukum dirinya sedemikian berat. Hukuman yang membuatnya sakit keras itu belum disudahinya sampai ia mendapatkan jaminan bahwa ia benar-benar telah diampuni. Hingga Allah pun memberitahukan ampunan-Nya secara langsung di dunia, khusus kepadanya.Bahkan, penyesalannya terhadap dosa kecil tersebut (itu pun tidak disengaja), sampai melibatkan Jibril dan para malaikat dalam jumlah besar untuk turut serta memberi penghormatan (dan tentu saja doa) secara langsung di akhir hayatnya. Berapa banyak dosa kita? Seberapa besar yang termasuk dosa besar? Berapa pula dosa kecilnya? Astaghfirullah! Hari-hari yang kita lalui kebanyakan merupakan hari-hari dosa. Tiada hari tanpa dosa.Ayuhlah kita kembali kepadaNYA. sesungguhnya Allah Maha Pengampun. “Katakanlah:Hai hamba-hambaku yang melampau batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (39:53)

Semangat Palestina yang takkan pernah padam!

Followers

ღ halawatul iman ღ